orientasi suara
by Ramda Yanurzha
Sekitar 9 tahun lalu, saya pertama kali diperkenalkan dengan pengalaman diteriaki saat ospek. Waktu itu saya baru masuk SMA yang kebetulan lulusannya banyak yang diterima di UI dan ITB. Saya kira, itu namanya bullying mental: menyalurkan sisa-sisa frustasi (baik yang beneran prihatin sama bangsa maupun sekedar pusing baru diputusin pacar) atas nama menempa dan membina anak-anak baru, atas nama membentuk generasi baru. Saya kira itu hanya ada di SMA.
Tentunya, saat 3 tahun kemudian saya masuk ke ITB, saya kecewa ternyata drama itu hanya copy-paste dari teatrikal yang bernama OSKM ITB.
OSKM. Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa. Sounds good on paper. Jerih payah persiapan selama setahun dari para senior untuk mengenalkan juniornya yang masih polos kepada “kenyataan pahit”. Mengutip dari post blog senior saya Petra, perkenalan itu sebagian besar disampaikan dengan teriakan over-the-top seperti:
“Selamat datang calon2 pengangguran ITB!!!”
“Jas almamaternya dipakeee!! Sayang udah dibeli mahal2!!”
“Eh itu jangan pegang2 tangan ya! Jangan curi2 kesempatan!”
“Berasa sudah santai ya masuk ITB??!!”
“Woi, yang cepet! Tapi jangan lari!”
“Ini namanya pemimpin global? Ini sih pemimpin gombal!”
“Bangga kalian sama jas almamater kalian?”
Yang diserukan puluhan, bahkan ratusan orang secara bersamaan sehingga hasilnya menjadi seperti ini:
Beberapa teman saya hanya tertawa-tawa saja dengan fakta ini, mungkin dengan statement semacam “ah itu kan massa kampus yang vokal ga jelas, bahkan masih banyak anak ITB yang males ikut jadi panitia, ga peduli, apatis gitu”.
Tentu saja banyak yang apatis. Tidak semua orang setuju dengan cara ini.
Kenyataannya, ini semua didasarkan pada asumsi bahwa mahasiswa baru itu bodoh dan polos dan tidak mengerti apa-apa dan merasa terlindungi dengan barisan panitia yang diam dan mengayomi, memisahkan mereka dari keganasan massa kampus.
Asumsinya adalah, banyak ancaman multidimensi di real life yang merusak bangsa ini dan OSKM adalah langkah pertama untuk membangunkan jiwa-jiwa muda agar nantinya siap memimpin dan memperbaiki bangsa. Even I feel sick writing the words above.
Anekdotal, tapi hampir seluruh komentar dari teman saya adalah satu-satunya yang nyata didapat dari kegiatan semacam ini adalah mereka kecewa dengan suara-suara yang mereka dengar. Suara-suara yang menggerakkan, tapi tidak membimbing. Menyentak, tapi tidak mengarahkan. Bising. Merusak gendang telinga.
Oh, in their supposedly naïve eyes, they could very well see the frustration, the desperation of angry people bursting on their seams. Their pride up there, artificially lifted.
Pride yang terwujudkan jadi omongan orang bahwa lulusan ITB termasuk yang paling sombong saat interview kerja (no, really, it’s not a myth reposted over and over again at various mailing lists). Pride yang terwujudkan dalam jaket himpunan warna-warni, yang didapat susah payah dari berbulan-bulan orientasi tambahan yang jauh lebih melelahkan daripada OSKM itu sendiri.
Jaket yang seakan memberi legitimasi untuk berteriak-teriak tanpa respek kepada yang masih memakai putih abu-abu selama tiga atau empat hari.
Apakah naskah jalannya acara (“yang acara ini, massa kampus mohon diem dulu ya, selanjutnya boleh teriak-teriak!”), penyusunan dramaturgi (“acara ini tensi 3! Nah, selanjutnya turun ke tensi 2 karena malemnya tensi 5”) dan pembagian peran di OSKM ini adalah cara yang baik?
Saya rasa tidak.
Pernah adakah yang bertindak layaknya mahasiswa, membuat penelitian atau menyuruh orang membuat penelitian bahwa itu cara yang benar untuk menyambut mereka?
Nampaknya tidak ada. “Rakyat” senang sih ada OSKM. Sekitar ITB senang karena angkot dicarter dan pisang goreng laris. Setelah itu mungkin tidak terasa. Yang membuat penelitian biasanya mengurung diri di lab untuk TA. Peduli amat mau teriak-teriak yang muda-muda.
Bukankah ini pertanda kalau kerja keras ribuan pita suara itu sia-sia?
Karena yang ditanamkan adalah melawan massa kampus itu cari mati. Yang boleh itu melawan rektorat, regardless of who’s right or wrong. It’s suddenly “us” against “them”. Kemahasiswaan bagai agama, boleh ditanya tapi jangan kebanyakan nanya.
The biggest lie of OSKM is that we present ourselves as the one who is definitely wiser.
The biggest crime of OSKM is to tell our juniors to fight with us for our nation,
while forgetting that ultimately it’s a fight against ourselves.
How can you motivate people to help others while you’re the one who actually need help?
Di mana suara yang menyadarkan semua bahwa hanya nurut saja tidak akan membawa kita kemana-mana?
———————–
Untuk bacaan lebih lanjut, kata-kata yang senada:
- http://alectronafelidae.wordpress.com/2012/07/28/tentang-kampus-yang-terjebak-tradisi-lama/
- http://blogs.itb.ac.id/petra/2012/07/29/komentar-saya-tentang-oskm-itb-kemarin/
- http://blogs.itb.ac.id/rahard/2012/07/29/komentar-tentang-oskm/
dan disclaimer:
Saya alumnus Informatika ITB dari tahun 2006-2011 lalu pindah menyelesaikan studi di James Cook University, Singapura.
Untuk komentar dan diskusi lebih lanjut, feel free to write up or mention me at @ramdaffe.
[...] Orientasi Suara [...]
[...] http://ryz.me/orientasi-suara/ [...]
[...] seabrek-abrek, OSKM 2012. Seiring dengan itu, banyak pendapat yang beredar seperti ini, ini, dan ini, belum lagi yang ada di twitter dan milis himpunan. Seru sih, diskusi sehat, dan bagusnya, dari [...]
That’s a quick-witted answer to a difficult qesuiotn