praduga
The nuns taught us there were two ways through life – the way of nature and the way of grace.
You have to choose which one you’ll follow. Grace doesn’t try to please itself. Accepts being slighted, forgotten, disliked. Accepts insults and injuries.
Nature only wants to please itself. Get others to please it too. Likes to lord it over them. To have its own way. It finds reasons to be unhappy when all the world is shining around it.
The nuns taught us that no one who loves the way of grace ever comes to a bad end.
-Terence Malick’s The Tree of Life
Tiga hari ke belakang ini, menarik sekali reaksi orang-orang terhadap beberapa post yang kritis terhadap beberapa aspek dari rangkaian acara OSKM 2012. Banyak respon mengalir di bagian komentar masing-masing post blog sesama penulis, pembahasan panjang di milis-milis himpunan, dan banyak juga yang menyampaikan tanggapan (singkat) melalui Twitter.
Diskusi yang sehat di berbagai tempat ini juga punya side effect yang menurut saya jauh lebih bermakna dibandingkan topik bahasannya sendiri: suddenly we get to hear a lot of different voices.
Pendapat dari yang menjalani. Pendapat dari panitia lapangan. Pendapat dari konseptor. Pendapat dari swasta. Pendapat dari alumni. Pendapat dari dosen. Pendapat dari yang selalu ikut. Pendapat dari yang tidak pernah ikut. Pendapat dari publik.
Tentunya, yang terakhir membuat beberapa orang takut. Video massa kampus teriak-teriak yang saya publish bahkan sudah diminta untuk dihapus dalam waktu beberapa menit saja. Foto massa kampus dari sebuah himpunan di post blog teman saya langsung dipermasalahkan, padahal yang dibahas intinya bukan menjurus ke pihak tertentu. Terlepas dari seluruh forum tertutup maupun bebas dan ratusan kali sosialisasi, banyak yang merasa sangat tidak nyaman ketika diskusi ini terbuka sebebas-bebasnya bagi seluruh dunia (!) untuk berpartisipasi. Tidak ada aturan tertulis, it’s just the way it is.
Sebagai seseorang yang sudah menjadi fotografer dan kurator video OSKM selama 5 tahun dan sudah hapal luar kepala adegan dokumentasinya dari tahun 70an sampai sekarang, hal itu yang paling menggelitik benak saya.
Kok begitu? Mengapa momen yang tujuannya menginspirasi agar peduli dengan rakyat justru malah dilindungi dari sorotan mata publik? Bagaimana bisa sebuah sistem hanya memilih untuk mendengarkan feedback dari orang yang ada di dalam sistem itu saja? That’s like talking to yourself.
Menurut saya tidak perlu takut dengan persepsi publik.
Lho, kalau berani pasang spanduk “Kalian disubsidi rakyat! Rakyat dikasih apa?!”,
masak kita malah menutup diri dari kritik mereka?
Show them that we’re doing something great over here,
and have the courage to realize it when things we do aren’t really that great after all.
Bagi adik-adik panitia yang sudah capek-capek latihan olah rasa (that one is particularly hard, yeah) dan lari-lari keliling sabuga di bulan puasa, tentu saja akan marah dengan orang-orang yang “tiba-tiba” mempermasalahkan kerja keras mereka. No shit, back in 2006 (my batch), there wasn’t any legal INKM or OSKM. You should’ve seen the massively disappointed eyes of my seniors that day.
Sebaliknya, banyak komentar para ex-panitia OSKM (saya lihat ada dari angkatan 2000, 2002, 2004) yang kecewa dengan keadaan sekarang dan setuju dengan beberapa poin yang saya dan teman-teman saya sampaikan. Baik yang pro maupun kontra, argumennya menarik untuk dibaca.
Yang menyedihkan, banyak yang salah kaprah.
Ada beberapa komentar yang saya yakin bukan hasil yang dimau dari adanya OSKM.
“Cuma diteriakin aja udah mewek.. Mau jadi engineer macam apa? A leader need to be tough!”
“Situ mau punya anak yang ketika disuruh beli gorengan aja nangis soalnya takut sama tukangnya soalnya mentalnya lemah?”
Salah kaprah, dikiranya saya dan penulis lain itu merasa dirinya paling benar.
Tidak.
“Lho, jadi setuju kalau OSKM itu sangat bagus sebagai momen untuk menginspirasi dan menyadarkan?”
Lho, acaranya menyentuh kok. Saya sebagai fotografer saja senang, apalagi yang beneran tergugah.
“Lalu buat apa ribut-ribut permasalahin? Kalau peduli ya ikut jadi panitia dong, kalau nggak diem aja. Anda nggak tahu apa-apa. Kami capek, anda hanya tinggal ngetik saja. Anda tulis, orang-orang ribut, nanti tahun depan acaranya bakal susah izinnya. Kasihan adik-adik kita yang pasti pada masih manja itu nanti jadi tidak peka terhadap rakyat, dan tidak merasakan megahnya serta serunya acara ini. Nanti mereka apatis. Kita harus pertahankan nilai-nilai kita ini.”
“Apatis”. “Manja”. “Kasihan”.
Kata-kata yang menggugah itu berbahaya. Mudah diucapkan, susah dihapus baik benar maupun salah.
Tidak semua kata-kata yang menggugah itu benar, seperti halnya ayat-ayat di kitab yang terkadang saling bertentangan dan kata-kata mutiara yang sifatnya hanya spesifik untuk suatu keadaan.
Tidak ada alasan untuk mengobral kata-kata negatif hanya demi menjaga kewibawaan artifisial,
because true respect is earned by giving true respect to the others.
Biarlah tulisan-tulisan kritik ini tetap ada di sini agar mudah dibaca saat diperlukan nanti.
Tidak tercecer di kertas-kertas LPJ yang akhirnya berakhir jadi bungkus gorengan atau lenyap saat pindahan kosan.
Jangan sampai kata-kata penggugah yang ingin kita tanamkan itu hanya jadi naskah drama.
_____________
Buat adik-adik peserta OSKM 2012, enjoy the closing night. You’re actually really lucky.
Your seniors have worked really hard to send you a lot of really good messages.
Keep the messages inside your heart and think about it sincerely. Let them grow.
Don’t waste them by aimlessly shouting them back next year to those after you.
Respect other people just as you respect those messages.